Selebriti :)

Reffooot deh kalo jadi seleb … hehehehe ..

Tanpa persiapan apa-apa karena mendengar kakak ipar dioperasi, si Carnie saya genjot menuju Purbalingga menjelajah lebih dari 800 KM pulang-pergi. Alhamdulillah perjalanan lancar tanpa hambatan apapun. Perginya saya melewati jalur utara dan dihadang 2 titik kemacetan karena perbaikan jalan. Titik pertama di sekitar Patokbesi. Jalan yang bisa dilalui cuma 2 lajur saja, mengakibatkan macet yang lumayan panjang. Titik kemacetan kedua terletak beberapa ratus meter sebelum persimpangan KA Prupuk (jalur Ketanggungan) karena menunggu mobil pengaduk beton membongkar muatannya.
Karena kemacetan ini pulangnya, Minggu 9 November 2008, saya memutuskan melalui jalur selatan. Jalur ini saya lalui dengan lancar meski di beberapa tempat berlobang-lobang. Yang agak mengherankan adalah mulai dari perempatan Buntu sampai sekitar Majenang jalan relatif sepi sekali. Apa karena efek eksekusi mati Amrozi cs jadi orang malas keluar rumah?
Salah satu pesan almarhum Abi yang senantiasa saya ingat adalah: jangan berkompromi dengan rem mobil. Bila ada yang kurang beres langsung perbaiki. Jika ada suku-cadang yang harus diganti, gantilah dengan yang terbaik.
Mengingat kejadian minggu yang lalu hari ini saya minta mekanik untuk mengecek semua sistem rem si Timmie, mengganti brake-shoe (meski kanvas-nya masih sangat tebal), brake-fluid, dan beberapa komponen lain. Syukurlah komponen rem roda depan tidak ada yang perlu diganti. Alhamdulillah, beberapa lembar fulus keluar lagi dari dompet saya.
Sebenarnya masih ada beberapa bagian lagi yang memerlukan perbaikan. Saya terpaksa harus menundanya karena memerlukan ongkos yang besar. Power steering, meski relatif masih berfungsi, ada rembesan sehingga fluidanya harus ditambah pada waktu tertentu. Timing Belt yang pernah diganti sekitar 3 tahun yang lalu rasanya juga memang harus diganti karena jarak tempuhnya sudah tercapai. Dan .. kopling pun sudah memunculkan gejala-gejala menipis.
Di mobil saya yang lain dinamo-starter tampaknya harus ditangani mekanik, karena mobil itu kadang tidak bisa dihidupkan jika mesin masih panas. Mungkin harus sekalian ditambah relay agar arus listrik dari aki bisa lebih banyak lagi tersalur.
Waduhhh .. Berapa banyak fulus yang harus saya siapkan?
Mudah-mudahan Allah Swt memudahkan seluruh urusan saya. Amin!
Pagi ini jam 6:10 saya sudah harus berangkat mengantar isteri saya ke sebuah balai pertemuan di jalan Gatot Subroto karena dia ikut menjadi panitia pernikahan putra boss-nya. Sekalian saya membawa Timor saya ke sebuah bengkel langganan di jalan Dewi Sartika Jaktim. Mobil itu sudah banyak sekali keluhannya karena memang selalu dipakai tanpa perawatan yang memadai. Salah satu keluhannya adalah bunyi “klak klak klak” ketika membelok patah ke kiri dan kanan. Karena bengkel itu baru buka jam 8:00, dan saya tiba sekitar jam 7:00 di gedung pertemuan saya harus “planga-plongo” selama lebih dari satu jam.
Jam 8:00 saya tiba di bengkel dan langsung ditangani oleh mekanik bengkel. Lumayan juga pengeluaran buat si Timmie kali ini:
Setelah perbaikan selesai saya membawa mobil itu pulang. Ketika sudah hampir sampai rumah, tepat di TL Narogong ketika saya belok kiri ke arah jalan Kartini terdengar sebuah bunyi keras dari arah belakang. Saya fikir ada kendaraan lain yang menabrak. Ternyata bukan. Tidak ada sebuah kendaraanpun di belakang mobil saya. Yang terjadi kemudian adalah mobil menjadi sangat berat dibawa. Seorang bapak yang kebetulan ada di dekat situ memberi tahu bahwa ban kiri belakang sama sekali tidak bisa berputar. Saya menepikan mobil dan setelah diangkat dengan dongkrak ternyata benar roda itu terkunci, tidak bisa berputar sama sekali.
Bapak tadi lalu memberi tahu saya bahwa di dekat situ ada sebuah pool taksi dan kalau saya mau ada montir kenalannya yang bisa dimintai tolong. Saya setuju, dan si bapak tanpa saya minta menelpon lewat hapenya menghubungi sang montir. Tak lama si montir datang dan langsung membongkar ban yang terkunci itu. Ternyata sebuah kanvas remnya lepas total dan harus diganti. Kebetulan ada toko onderdil mobil sekira 100 meter dari situ. Saya memberi uang ke montir tadi dan satu set kanvas rem (4 buah) yang saya butuhkan harganya rp 75.000 merk Daimaru. Saya fikir harganya reasonable.
Selagi si montir bekerja saya mengobrol panjang lebar dengan si bapak yang membantu saya menelponkan si montir tadi. Wajahnya sejuk dan saya fikir dia tulus membantu saya. Ketika mobil saya selesai diperbaiki dan saya memberikan uang kepadanya sebagai ucapan terimakasih sudah dicarikan montir dengan halus dia menolak. Sekarang saya yakin bahwa si bapak itu memang ingin menolong saya.
Si montir pun tampaknya memang benar-benar ingin membantu. Ketika saya tanyakan berapa upah kerjanya, dia menyatakan terserah. Saya menyebut sebuah angka dengan pesan kalau angka itu terlalu kecil tolong beritahukan saya. Ternyata jawabannya nya adalah: “Terimakasih. Itu sudah cukup, pak.”
Thanks God. Everything is normal again now. Insha Allah.
Hari ini saya ada sedikit keperluan di daerah sekitar ManggaDua. Setelah selesai urusannya saya ingat dua buah Harddisk di PC saya yang berkapasitas masing-masing 160 GB sudah hampir penuh, jadi saya memutuskan mengunjungi toko seorang kenalan untuk membeli sebuah harddisk baru. Saya memilih yang barkapasitas 320 GB. Harganya Rp. 574.000. Ini harga setelah dolar naik beberapa hari terahir ini.
Tanggal 10 Februari 2007 setahun yang lalu saya sempat juga membeli sebuah Hardisk berkapasitas 160 GB seharga Rp 530.000. Perhatiakan baik-baik, dalam kurun waktu setahun dengan harga yang berselisih sangat sedikit (Rp 574k - Rp 530k = Rp 44k) saya mendapatkan harddisk dengan kapasitas dua kali lipat.
Tampaknya harga storage-media cenderung turun terus.
Powered by WordPress | Aeros Theme | TheBuckmaker.com